JAVANEWS.CO.ID

KREATIF, SANTUN DAN BERIMBANG

Cluster 9 BUMN Dengan Business Model Efisien

2 min read

Jakarta – Javanews.co.id | Sembilan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berbasis pangan dan penunjangnya akan dibuat dalam satu cluster industry, sehingga rantai pasok terintegrasi. Business model juga akan ditata ulang, sehingga ada perbaikan dari masing-masing BUMN tersebut dengan spesifikasi bidangnya.

“Masing-masing kekuatan (bidang) BUMN tersebut, misalkan retail, sales, produksi dan lain sebagainya, bisa tertata dengan baik dan efisien. Kita bisa mencapai ketahanan pangan kalau pasokan stabil, harga otomatis stabil. Makanan memicu inflasi cukup besar, terutama jelang hari-hari raya, terutama Lebaran,” President Director RNI (Rajawali Nusantara Indonesia) holding company Eko Taufik Wibowo mengatakan kepada awak media Javanews.co.id.

Sembilan BUMN tersebut adalah RNI, Berdikari (Persero), PT Garam, Perum Perinus (Perikanan Nusantara), Perum Perindo (Perikanan Indonesia), PT Bhanda Ghara Reksa (Persero) atau BGR, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero), PT Sang Hyang Seri (Persero) atau SHS yang bergerak di bidang pertanian, khususnya dalam penyediaan benih.

“RNI ditugaskan sebagai ketua cluster untuk mengubah business model sampai pada perubahan. Tapi (bentuknya) apakah seperti holding atau bukan, kami perlu menyusun kajian terlebih dahulu. Dengan cluster, penataan diharapkan bisa lebih baik. SDM (sumber daya manusia) diperkuat, sehingga tuntutan masyarakat terkait kebutuhan makanan terpenuhi. Harga juga bisa semakin terjangkau,” tegas Eko Taufik.

Contoh yang paling nyata yakni komoditas gula dan garam. Sebagaimana kondisi industri di Jawa Tengah dan Jawa Timur, salah satunya adalah petani tebu. Kendatipun tebu melimpah, tapi pemerintah masih impor gula. Sama seperti garam, ketika mengunjungi pulau Madura, hampir semua pantainya berserakan dengan tambak garam. Tetapi pemerintah masih impor garam juga.

Kegiatan PT Garam dalam menyediakan garam terbagi menjadi dua, yaitu Garam Bahan Baku (konsumsi) dan Garam Olahan (industri). Pemanfaatannya tidak sama antara konsumsi dan industri. Karena perkembangan industri, setiap produk perlu diverifikasi.

“Garam untuk industri, bisa terserap pada industri kain, ikan asin, kecap, kaca, farmasi, pulp/kertas dan lain sebagainya. Sementara Tebu juga sama, bukan sekedar menghasilkan gula, turunannya berupa alkohol, tetes tebu, limbahnya untuk pakan ternak dan lain sebagainya. Keduanya yaitu BUMN Garam dan Gula tidak siap,” kata Eko Taufik.

Kebutuhan terhadap business model, talents atau SDM tentunya akan membawa BUMN sebagai produsen dengan kualitas dunia. BUMN juga bisa menjaga pasokan secara berkesinambungan, menjamin kepuasan konsumen. “Saya kan juga belum satu bulan menjabat sebagai President Director, harus mengonsolidasi semua perusahaan tidak sehat.

Regulator nya adalah berbagai kementerian yaitu Kementerian Pertanian, Industri, Kelautan dan Perikanan, Menko Maritim dan Investasi, juga Menko Perekonomian. BUMN harus tumbuh. Industri logistik juga sama, harus mengacu pada kebutuhan yang diperlukan.

Selama ini bisnis logistik tidak pada core nya. Sehingga tidak terjadi sinergi yang baik antara BUMN. Sehingga masing-masing BUMN bikin logistik sendiri,” tegas Eko Taufik. (SL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *