JAVANEWS.CO.ID

KREATIF, SANTUN DAN BERIMBANG

Diduga Diserang Virus ASF, Ribuan Babi Mati di Sipora

3 min read

Mentawai – Javanews.co.id | Sekira ribuan babi mati mendadak dalam kurun waktu yang singkat di pulau Sipora. Berdasarkan hasil laboratorium, diduga (suspect) terjangkit virus african swine fever (ASF) / demam babi afrika.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Bupati Mentawai Kortanius Sabeleake melalui Sekretaris Dinas ketahanan pangan dan pertanian Mentawai menyatakan bahwa pemerintah daerah setempat akan segera membentuk tim pengendalian virus ASF ini di Kepulauan Mentawai khususnya di pulau Sipora.

“Area babi yang suspect tertular ASF itu ada di belakang kantor pajak, Mapaddegat, Sioban, dan saureinuk. Sementara area babi yang masih sehat dan belum tertular itu di Betumonga, Beriulou, dan Bosua,” ungkap Zakirman, Sekretaris Dinas ketahanan pangan dan pertanian Mentawai, kamis (13/2/2020).

Zakirman mengimbuhkan bahwa tim kerjanya akan melakukan sosialisasi kepada peternak babi yang masih sehat, agar babinya tidak tertular. Petugas akan memulai pembinaan dari lokasi babi yang masih sehat baru kemudian menuju lokasi yang terindikasi babinya tertular virus ASF.

“Kita juga akan segera mengeluarkan surat edaran terkait pelarangan babi keluar dari pulau Sipora di lingkup kabupaten kepulauan Mentawai dan juga babi dilarang masuk ke Mentawai dari luar kabupaten sepanjang dokumen karantina tidak ada,” imbuhnya.

Jika babi yang didistribusikan dari luar kepulauan Mentawai tidak memiliki dokumen karantina, maka pihak Dinas perhubungan, Lanal, Polres dan Kodim, akan bertindak menahannya karena disinyalir membawa virus ASF.

Selain itu, kata Zakirman, tim tersebut juga melarang masyarakat dari luar Mentawai membawa hewan pembawa virus rabies seperti anjing dan kucing masuk ke Mentawai. Saat bersamaan, Fungsional medik veteriner ahli madya direktorat jenderal peternakan kementrian pertanian, Abdul Rachman menerangkan, bahwa penyebaran suspect virus ASF pada babi bisa saja disebabkan oleh karena distribusi dari daerah tertular secara ilegal.

Apapun gejala babi yang terserang ASF diantaranya, demam tinggi, ada kemerahan pada telinga dan kebiruan pada pangkal pahanya. Abdul menambahkan bahwa ketahanan virus ASF dalam daging bisa mencapai di atas 100 hari, dalam suhu dingin hingga 1.000 hari, dan dalam feses bisa 11 hari.

“Virus ini tidak menular ke manusia, namun menularnya antar babi saja, dan aman dikonsumsi setelah dimasak,” tutur Abdul saat sosialisasi pengendalian penyakit menular demam babi afrika di Tuapejat, Sipora utara kamis (13/2/2020).

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada vaksin atau obat yang dapat menyembuhkan babi dari virus ASF tersebut. Virus ini, katanya, awalnya muncul sejak 1920 di Afrika, kemudian menyebar ke Eropa, Amerika, dan terakhir ke Asia.

Tahun 2019 masuk ke China, Vietnam, hingga Sumatera utara. Adapun upaya menurunkan resiko babi terserang virus ASF diantaranya yaitu bio security yang ketat, dengan menjaga kebersihan kandang, penyemprotan disinfektan ke seluruh kandang, dan kebersihan petugas.

“Babi yang mati harus dikubur agar tidak menyebarkan virus kemana-mana. Daging babi yang suspect yang sudah dipotong tidak boleh dibagikan ke orang lain agar tidak menular ke areal lain. Tetapi jika sudah dimasak, baru bisa dibagikan ke orang,” paparnya.

Virus ASF akan mati pada suhu 60°celcius selama 20 menit. Upaya berikutnya yakni babi tidak boleh masuk ke area terinfeksi. “Lalu lintas diperketat. Tunggu area tersebut steril atau habis virusnya, sekira enam bulan baru kemudian beternak lagi. Jika tidak, masyarakat bisa merugi dua kali lipat karena ternaknya bisa mati lagi,” terangnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa di setiap kecamatan sebaiknya memiliki minimal satu orang dokter hewan dan ada pusat kesehatan hewan di kabupaten untuk mengawasi dan mengendalikan penyakit hewan. Pada tempat yang sama, Kepala seksi karantina hewan Balai karantina pertanian kelas I Padang, Agus menyatakan, bahwa pihaknya selama ini mengawasi dan memeriksa lalu lintas hewan dari Padang menuju Mentawai terutama ke Tuapejat di pelabuhan Muara Padang, Teluk bayur, Bungus dan bandara internasional minangkabau. (Kornelia Septin Rahayu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *