JAVANEWS.CO.ID

KREATIF, SANTUN DAN BERIMBANG

Pendidikan Rendah Memicu Terjadinya Kasus TPPO

4 min read

Jakarta – Javanews.co.id | Perdagangan orang dengan modus pengantin pesanan kian marak terjadi di Indonesia, terutama di Provinsi Kalimantan Barat dan Jawa Barat.

Pada periode Januari-Juli 2019, Kemenlu RI menangani 32 kasus pengantin pesanan. Sementara itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) mencatat 20 kasus TPPO dengan modus pengantin pesanan selama setahun. 

Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) menyebut 29 perempuan Indonesia menjadi korban pengantin pesanan yang diduga terperangkap dalam modus kejahataan tindak pidana perdagangan orang. 

Dari jumlah itu 13 perempuan berasal dari Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, sementara 16 perempuan lainnya berasal dari Jawa Barat, (13/02/2020).

Dua dari 13 perempuan korban TPPO yang berasal dari Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat, adalah anak di bawah umur. Masalah perdagangan orang dengan modus kawin kontrak atau pengantin pesanan terjadi karena berbagai factor, salah satunya adalah  Kemiskinan dan kesenjangan ekonomi keluarga dan antar daerah menjadi faktor dominan dan merupakan akar persoalan perdagangan manusia.

Selain itu, pendidikan yang rendah, pengetahuan yang minim dan keterbatasan informasi memicu terjadinya kasus TPPO. Dalam rangka untuk mengetahui persoalan lainnya dalam penanganan masalah perdagangan orang, Vivat Indonesia bekerjasama dengan KPAI melakukan sebuah diskusi untuk membedah masalah perdagangan orang dengan modus pengantin pesanan.

Acara dihadiri oleh beberapa narasumber diantaranya adalah KPAI, LPSK, Sub Gugus Tugas TPPO Bareskrim dan Kementrian Luar Negeri.

Suster Geno Amaral SSpS, yang merupakan Sekretaris Vivat Indonesia dan juga sebagai Ketua Panitia acara mengatakan, bahwa acara tersebut dilakukan karena begitu prihatinnya masalah perdagangan orang dengan modus pengantin pesanan.

Kegiatan ini merupakan kerjasama jaringan yang terdiri dari 33 organisasi masyarakat sipil terdiri dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari organisasi keagamaan, organisasi yang bekerja di akar rumput, organisasi nasional dan juga organisasi kemanusiaan lainnya.

Vivat Indonesia, yang diketuai oleh Romo Paul mengatakan, bahwa masalah perdagangan orang yang terjadi di Indonesia, karena persoalan ekonomi, kebanyakan yang menjadi korban perdagangan orang itu adalah masyarakat miskin, berpendidikan rendah dan minim informasi mengenai dampak dari perdagangan orang. 

Romo Paul menambahkan, bahwa sistem pendataan di kantor imigrasi dan Disdukcapil masih memiliki sejumlah kelemahan. Lemahnya sistem pendataan mengakibatkan terjadinya kasus pemalsuan (mark up) umur, sehingga ada sejumlah perempuan yang masih di bawah umur menjadi korban pengantin pesanan. Dua anak di Kalimantan Barat yang berusia 14 dan 16 tahun di“mark up” umurnya menjadi 24 dan 26 tahun. Mereka rentan menjadi korban TPPO.

Paul Rahmat yang merupakan seorang biarawan atau imam Katolik ini mengatakan bahwa Diskusi ini dilakukan untuk membahas proses penegakan hukum terhadap kasus perdagangan orang yang mengalami kendala sejak proses penyelidikan, penyidikan sampai pada putusan pengadilan yang selalu memutuskan dengan putusan rendah.

Persoalan yang lainnya masih banyak penggunaan Undang-undang yang tidak tepat dan lain-lain. Paul Rahmat menambahkan bahwa Aparat penegak hukum juga sepertinya tidak serius atau berlarut-larut menangani kasus pengantin pesanan, karena menganggap belum menemukan bukti-bukti pelanggaran hukum atau tindakan yang dikategori sebagai kejahatan.

Sekalipun praktek kawin kontrak ini berujung pada tindakan kekerasan, intimidasi, eksploitasi seksual dan penelantaran secara ekonomi terhadap korban, kawin kontrak antara dua kewargaan negara yang berbeda di mana masing-masing negara memiliki perspektif dan sistem hukum yang berlainan menambah rumit persoalan.

Seperti yang terjadi pada perkawinan antara warga negara Indonesia asal Kalimantan Barat dengan warga negara asing asal Tiongkok. Pemerintah Indonesia dan otoritas China menyikapi kasus pengantin pesanan secara berbeda.

Otoritas China menganggap permasalahan yang banyak dikeluhkan oleh para WNI, yang menjadi korban kasus pengantin pesanan, sebagai masalah rumah tangga biasa antara suami istri dengan kewarganegaraan berbeda. Selain itu, pernikahan antara si pemesan dan si pengantin pesanan di negara tersebut dinilai sebagai pernikahan yang sah.

Komisioner LPSK Bapak Dr Iur Antonius PS Wibowo SH MH yang menjadi narasumber pada acara ini mengatakan, bahwa korban TPPO dengan modus kawin kontrak masih sulit mendapatkan hak-haknya secara penuh.

Selain itu, perlu memperkuat SDM para korban dengan melakukan kerjasama dengan dinas terkait yang ada di daerah. LPSK menambahkan bahwa kebanyakan yang menjadi korban perdagangan orang dengan modus pengantin pesanan berlatar belakang pendidikan rendah dan pengangguran.

Sejauh ini, LPSK banyak menerima pengaduan pengantin pesanan dengan korban berusia dewasa. Komisioner LPSK tersebut menambahkan bahwa LPSK memberikan layanan pendampingan psikologis, rehab psikologis dan pendampingan bagi korban saat pemeriksaan.

LPSK menambahkan bahwa kendala dalam pendampingan kasus perdagangan orang masih sangat minim psikolog dan advokat untuk mendampingi korban saat proses hukum berjalan. Selain itu, LPSK menyampaikan bahwa peran gugus tugas TPPO masih sangat minim, partisipasi masyarakat juga perlu lebih ditingkatkan.

Sementara, Kementerian Luar Negeri yang diwakili oleh Derian Antonio mengatakan, modus pengantin pesanan kebanyakan korban tergiur karena dijanjikan untuk hidup enak. Sementara kenyataannya kehidupan para korban pengantin pesanan hidup dibawah rata-rata, sangat berbeda jauh dari yang telah dijanjikan oleh Mak Comblang.

Alasan kenapa orang Cina banyak mencari perempuan diluar negaranya, karena uang mahar untuk meminang perempuan di negaranya sangat mahal dibandingkan di Indonesia.

Derian menambahkan, bahwa proses hukum pada kasus pengantin pesanan sering mengalami kendala, terkait dengan tidak terpenuhinya unsur terjadinya tindak pidana perdagangan orang.

Hal ini selalu menjadi persoalan saat berkoordinasi dengan kepolisian,  Derian menambahkan bahwa tidak semua masalah pengantin pesanan itu sebagai masalah perdagangan orang, karena ada yang melalui proses yang sadar untuk menikah dengan orang yang dicomblangin oleh Mak Comblang.

Di sesi lainnya Komisioner KPAI Bidang Trafficking Ibu Ai Maryati mengatakan, bahwa masalah perdagangan orang terjadi karena adanya jeratan hutang yang dialami oleh korban dan keluarga korban. Ai Maryati memberikan beberapa rekomendasi dalam mengakhiri perdagangan orang di Indonesia, dengan memperkuat sub gugus tugas antara pusat dan daerah, memperkuat kemitraan dengan stakeholder dan melakukan perlindungan optimal untuk anak-anak Indonesia. Pertemuan ini dihadiri oleh berbagai organisasi yang peduli pada masalah perdagangan orang yang berada di Jakarta. (Bbg) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *