JAVANEWS.CO.ID

KREATIF, SANTUN DAN BERIMBANG

Biaya IPAL Tambak Udang Tinggi untuk Budidaya Berkelanjutan

2 min read

Mengingat sumber terbesar limbah tambak udang adalah feses udang dan sisa pakan yang bisa menyebabkan munculnya beragam virus dan mikroorganisme patogen dan berakibat membahayakan kehidupan udang, investasi dana untuk pembuatan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) menjadi proritas.

IPAL yang ideal bisa menjaga lingkungan terutama jarak lokasi pembuangan limbah dengan kolam tambak dan sumber air. “Pembuatan IPAL tambak udang menghabiskan biaya yang sangat tinggi. Hal ini mau tidak mau, harus kami jaga lingkungannya, untuk mencegah kandungan berbahaya. IPAL yang baik tentunya akan menjamin budidaya udang berkelanjutan,” Direktur Utama PT Manakara Sakti Abadi, produsen udang Rudy Hartanto Wibowo mengatakan kepada Java News.

Kapasitas padat tebar budidaya udang metode super intensif dapat mencapai hingga 1250 ekor per m2. Dengan tingkat padat tebar tinggi, otomatis jumlah pakan yang diberikan dalam jumlah besar tidak semua dapat dikonsumsi oleh udang, sehingga sisa pakan dapat menjadi polutan. Limbah tambak udang super intensif jika tidak dikelola dengan tepat dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem lingkungan, berakibat merebaknya wabah penyakit.

“Kami menyelenggarakan inovasi baru, yakni IPAL dan tandon. Tambak udang kami aman, ibaratnya, kalau tetangga kena penyakit, kita juga tidak berani sedot air dari sumber yang sama. Kolam IPAL dibangun sejak kami buka lahan tambak udang, kami juga terus perbaiki IPAL. Kami berhasil memanen udang size 24,” tegas Rudy.

 Selain itu, perusahaan juga memiliki perizinan lengkap untuk IPAL, tandon tambak udang super intensif. Rudy mengaku, bahwa pelajaran dari kasus di Vietnam dan Thailand sangat berharga. Kondisi usaha budidaya udang di Thailand, Vietnam sempat mengalami kesulitan untuk bangkit kembali. 

Petambak di Thailand dan Vietnam menghadapi penyakit pada budidaya udang, seperti white spot dan white feces. Dampaknya, wabah terus berimbas, penyakit pada budidaya udang adalah awal bencana. “Tempat indukan, banyak masyarakat berbondong-bondong (budidaya udang), akhirnya kena penyakit. Karena IPAL tidak diperhatikan. Mereka hanya pikir, (bahwa) harga tanah (lahan budidaya udang) mahal,” kata Rudy.

Sementara itu, Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) menilai, kelompok-kelompok kerja (Pokja) yang dibentuk untuk pencapaian target produksi udang nasional sudah relevan dengan kondisi sekarang. Sebagaimana pasar dunia cenderung oversupply, sehingga tindakan antisipatif sangat dibutuhkan.

“Dari hasil rapat lintas kementerian di KSP (Kantor Staf Presiden), terbentuk Pokja. Tapi (rapat) baru kick off, belum ada tindaklanjutnya. Nanti Kementerian Koordinator Kemaritiman dan investasi (Kemenkormar) sebagai pilot,” Ketua GPMT Deny Mulyono mengatakan kepada Javanews.co.id.

Banyak data terkait dengan usaha budidaya udang mendekati kondisi riil di lapangan. Ada kemungkinan bahwa produksi vaname yang terus digenjot bisa membuat pasar dunia oversupply. Tapi kondisi pasar butuh waktu beberapa tahun sampai masyarakat semakin beralih pada konsumsi udang dan merasakan manfaatnya. “Pasar udang mungkin oversupply, tapi setelah dua tahun pasti terjadi massive growing. 

Kalau bicara udang vaname sebagai komoditas ekspor. Tapi kalau untuk pemasaran dalam negeri, label udang sehat hasil budidaya bisa dikampanyekan. Selain, distribusi pemasaran harus lebih pendek sampai pada meja makan konsumen. Sehingga, konsumsi udang terus meningkat,” tegas Deny. (SL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *